The Hidden Challenges Behind Airline Food Packaging
The Hidden Challenges Behind Airline Food Packaging

Tantangan Tersembunyi di Balik Kemasan Makanan Maskapai

Kemasan makanan untuk maskapai penerbangan memiliki serangkaian kebutuhan khusus yang jauh lebih kompleks daripada sekadar melindungi makanan. Setiap kemasan harus mendukung operasional catering yang efisien, sesuai dengan sistem galley di pesawat, menjaga kualitas makanan selama perjalanan, serta memiliki bobot seringan mungkin agar tidak menambah beban pesawat. Karena itu, solusi kemasan yang cocok untuk foodservice pada umumnya belum tentu ideal untuk penggunaan selama penerbangan.

Baca Juga Cara Praktis Merealisasikan Kemasan Berkualitas dan Fully Recyclable

Mengapa Kemasan Makanan untuk Maskapai Membutuhkan Pendekatan yang Berbeda?

Aturan International Catering Waste (ICW) Membatasi Peluang Daur Ulang

Salah satu anggapan yang sering muncul mengenai kemasan makanan di pesawat adalah bahwa material yang recyclable akan selalu didaur ulang. Kenyataannya, kemasan makanan dari penerbangan internasional sering dikategorikan sebagai International Catering Waste (ICW) dan diperlakukan sebagai limbah yang harus dikontrol karena adanya pertimbangan biosecurity. Di Uni Eropa, misalnya, Regulation (EC) No 1069/2009 mengharuskan catering waste dari banyak penerbangan internasional untuk dikelola berdasarkan aturan ketat mengenai produk sampingan hewan, sehingga peluang untuk didaur ulang melalui sistem konvensional menjadi terbatas.

Peraturan tersebut menunjukkan bahwa pilihan material saja tidak dapat menjadi satu-satunya tolok ukur sustainability. Kemasan yang recyclable sekalipun dapat berakhir di fasilitas insinerasi. Karena itu, maskapai semakin mempertimbangkan penggunaan material yang lebih efisien, bobot yang lebih ringan, serta kemasan dengan environmental performance yang baik sepanjang seluruh siklus hidupnya, bukan hanya pada tahap pembuangan.

Performance Sama Pentingnya dengan Sustainability

Dalam industri penerbangan, kemasan yang ringan bukan sekadar pilihan desain. Bobot kemasan juga dapat memengaruhi konsumsi bahan bakar dan emisi karbon. Setiap beban tambahan yang dibawa di dalam pesawat berkontribusi terhadap fuel burn, sehingga maskapai perlu mempertimbangkan bobot kemasan bersama dengan daya tahan, kemampuan melindungi makanan, dan kemudahan penanganannya. Kemasan yang sedikit lebih berat tetapi dianggap lebih "ramah lingkungan" belum tentu memberikan dampak lingkungan yang paling rendah secara keseluruhan.

Itulah mengapa industri penerbangan semakin mengandalkan Life Cycle Assessment (LCA) dalam membandingkan berbagai pilihan kemasan. Seperti yang disoroti oleh IATA, kemasan untuk maskapai perlu menyeimbangkan operational performance dan sustainability. Efisiensi penggunaan material dapat memiliki peran yang sama pentingnya dengan recyclability dalam mengurangi environmental impact.

Baca Juga Langkah-Langkah Mengukur Life Cycle Assessment pada Kemasan

Bagaimana Foopak Mendukung Kebutuhan Kemasan Makanan untuk Maskapai?

Paper cup, hasil kolaborasi Foopak dengan Garuda Indonesia

Kemasan makanan berbasis kertas dari Foopak dirancang untuk memenuhi kebutuhan praktis airline catering tanpa mengesampingkan aspek sustainability. Dengan konstruksi yang ringan serta ketahanan terhadap minyak dan kelembapan, Foopak membantu menjaga kualitas makanan sekaligus mendukung proses handling yang efisien selama catering dan inflight service. Foopak juga memiliki pengalaman dalam industri penerbangan melalui kolaborasinya dengan Garuda Indonesia untuk menyediakan kemasan berbasis kertas bagi layanan makanan selama penerbangan.

Alih-alih berfokus pada satu klaim sustainability, Foopak menerapkan pendekatan yang lebih seimbang. Fibre yang diperoleh secara bertanggung jawab, performa yang konsisten, dan efisiensi material menjadi bagian dari upaya membantu maskapai menghadapi kebutuhan operasional inflight catering sekaligus beralih menuju solusi kemasan yang lebih sustainable.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan food-grade packaging?

Food-grade packaging adalah kemasan yang dibuat dari material yang dinilai aman untuk bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung dengan makanan sesuai dengan kondisi penggunaan yang ditentukan. Kemasan ini dirancang untuk melindungi makanan dari kontaminasi sekaligus menjaga kualitas dan keamanannya. Material yang digunakan untuk kemasan makanan perlu memenuhi persyaratan tertentu, termasuk yang berkaitan dengan food contact, migrasi zat, suhu, serta jenis makanan yang dikemas.

2. Perusahaan apa yang menyediakan makanan untuk maskapai?

Makanan untuk penerbangan umumnya disiapkan oleh perusahaan yang memiliki layanan khusus inflight catering. Sementara itu, perusahaan lain menyediakan kemasan dan material yang digunakan untuk menyajikan serta melindungi makanan selama penerbangan. Foopak merupakan salah satu contoh pemasok paper dan paperboard untuk kebutuhan kemasan makanan dan minuman selama penerbangan. Foopak sebelumnya berkolaborasi dengan Garuda Indonesia melalui APP Group untuk menyediakan kemasan berbasis kertas bagi makanan, minuman, dan cutlery sebagai bagian dari sustainability initiatives maskapai tersebut.

3. Mengapa makanan terasa berbeda di pesawat?

Makanan dapat terasa berbeda saat berada di pesawat karena kondisi kabin dapat memengaruhi cara kita merasakan rasa dan aroma. Tekanan kabin yang lebih rendah, tingkat kelembapan yang sangat rendah, serta suara bising dari pesawat dapat mengurangi persepsi terhadap rasa dan aroma tertentu, terutama rasa manis dan asin. Penelitian yang dilakukan dalam kondisi yang disimulasikan seperti di dalam pesawat menunjukkan bahwa orang umumnya memiliki ambang persepsi rasa dan aroma yang lebih tinggi dalam kondisi bertekanan rendah. Artinya, beberapa rasa dapat menjadi lebih sulit dikenali.

Scroll to Top